Thursday, November 14, 2013

LENTERA HATI



LENTERA HATI

 
Pada tahun 1980-an disebuah desa dimana saya dilahirkan yakni desa Gadung Keramat, masih belum mengenal listrik seperti sekarang, yang ada hanya lentera. Lentera-lentera ini bermacam-macam bentuknya ; yang besar tentu saja cahayanya akan sangat terang dan menerangi semua yang ada disekitarnya, sedang yang kecil cahayanya akan terlihat redup dan samar. Lentera ini sangat bermanfaat dikala matahari sudah sudah tenggelam di ufuk barat. Masyarakat menggunakan lentera ini sebagai penerang dalam melaksanakan aktivitasnya pada malam hari. Bagaimana dengan hati manusia ?
Para sufi banyak sekali memberikan penjelasan mengenai lentera hati atau penerang hati. Lentera diartikan sebagai cahaya yang menerangi hati, seperti Suhrawardi Al-Maqtul  mengemukakan seorang akan mampu menerima cahaya dari sumber cahaya yakni Allah SWT ketika jiwanya telah membebaskan dirinya dari belenggu  materi fisik, sehingga dia memperoleh idea cahaya Tuhan, pada saat itulah dia akan memperoleh pengetahuan yang tak terbatas baik yang bersifat ghaib maupun tidak. Ia juga dapat menerima hal-hal tersebut baik dalam keadaan sadar maupun dalam keadaan tidur. Ia juga akan merasakan kebahagiaan illuminatif yang merupakan refleksi dari kenikmatan ma’rifah.
Lentera qalbu ini juga telah menghantarkan Rabi’ah Al Adawiyah pada kecintaannya kepada Sang Khaliq lautan Mahabbah seperti tergambar dalam salah satu syairnya : “Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu. Engkaulah harapanku, kebahagiaanku dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau”.
Mengapa lentera di hati manusia itu berbeda-beda ? Apa penyebabnya ? Abu Yazid al-Bustami mengemukakan ada 4 hijab yang menutupi makhluk dari Al-Haqq yakni : diri (nafs), hawa nafsu, setan dan dunia. Selanjutnya ia menjelaskan manusia tidak akan sampai pada tingkat kedekatan dengan Ilahi Rabbi, kecuali ia mampu memutus enam rintangan : Pertama, mencegah anggota badan dari menyalahi aturan syari’at. Kedua, mencegah diri dari kebiasaan sehari-hari. Ketiga, mencegah hati dari kebodohan manusiawi. Keempat, mencegah sirr dari kotoran-kotoran tabiat. Kelima, mencegah roh dari kabut- kabut indrawi. Dan keenam, mencegah akal dari khayalan – khayalan kosong.
Selain itu, lentera hati itu akan meredup seperti yang dikemukakan Imam Al-Ghazali karena keterkungkungan mereka pada makhluk dan pada diri mereka serta fokos mereka pada perbuatan mereka sendiri. Penyimpangan dari akidah yang benar, teramat cinta pangkat, harta, dunia, kekuasaan, syahwat, panjang angan-angan, menunda-nunda amal, kikir, emosional dll.
Ibnu Qayyim dalam kitab Ad Da’wad Dawa’, al Jawabul Kafi Liman Sa’ala ‘anid Dawa’ Syafi  dengan tegas menyebutkan bahwa kemaksiatan itu menyebabkan : Pertama, dapat menutup hati  Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” (QS. Al Muthafifin: 34). Kedua, melemahkan perjalanan hati menuju Allah SWT. Ketiga, dapat membutakan  pandangan mata hati, mematikan cahayanya, menutup jalan ilmu dan menghalangi masuknya petunjuk.  Imam malik ketika bertemu dengan Imam syafi’i dan melihat sesuatu yang menakjubkan pada dirinya, beliau berkata, “Sungguh aku melihat Allah telah memberikan cahaya kepadamu, karena itu jangan kamu padamkan cahaya itu dengan gelapnya kemaksiatan”.
Demikianlah, cahaya itu akan semakin melemah dikala manusia terlena dan tenggelam dalam lumpur kemaksiatan, hati menjadi gelap bagaikan malam tanpa lentera. Banyak orang tersesat karena tidak dapat melihat dan membedakan jalah yang Haq dan jalan yang Batil, bagaikan orang buta yang keluar pada malam hari yang sangat gelap melewati suatu jalan yang penuh bahaya. Sungguh betapa tipisnya harapan untuk selamat.
Mari kita nyalakan lentera di hati kita agar terlihat jalan-jalan kebaikan yang di ridhai Allah SWT, dan menghindari jalan kemaksiatan sekecil apapun, semoga kita termasuk orang-orang yang diberi cahaya keberkahan dalam samudera kehidupan. Amin.

No comments:

Post a Comment