LENTERA HATI
Pada tahun 1980-an disebuah desa dimana saya
dilahirkan yakni desa Gadung Keramat, masih belum mengenal listrik seperti
sekarang, yang ada hanya lentera. Lentera-lentera ini bermacam-macam bentuknya
; yang besar tentu saja cahayanya akan sangat terang dan menerangi semua yang
ada disekitarnya, sedang yang kecil cahayanya akan terlihat redup dan samar.
Lentera ini sangat bermanfaat dikala matahari sudah sudah tenggelam di ufuk
barat. Masyarakat menggunakan lentera ini sebagai penerang dalam melaksanakan
aktivitasnya pada malam hari. Bagaimana dengan hati manusia ?
Para sufi banyak sekali memberikan penjelasan
mengenai lentera hati atau penerang hati. Lentera diartikan sebagai cahaya yang
menerangi hati, seperti Suhrawardi Al-Maqtul mengemukakan seorang akan mampu menerima
cahaya dari sumber cahaya yakni Allah SWT ketika jiwanya telah membebaskan
dirinya dari belenggu materi fisik,
sehingga dia memperoleh idea cahaya Tuhan, pada saat itulah dia akan memperoleh
pengetahuan yang tak terbatas baik yang bersifat ghaib maupun tidak. Ia juga
dapat menerima hal-hal tersebut baik dalam keadaan sadar maupun dalam keadaan
tidur. Ia juga akan merasakan kebahagiaan illuminatif yang merupakan refleksi
dari kenikmatan ma’rifah.
Lentera qalbu ini juga telah menghantarkan Rabi’ah
Al Adawiyah pada kecintaannya kepada Sang Khaliq lautan Mahabbah seperti
tergambar dalam salah satu syairnya : “Buah hatiku, hanya Engkaulah yang
kukasihi. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu. Engkaulah
harapanku, kebahagiaanku dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain
dari Engkau”.
Mengapa lentera di hati manusia itu berbeda-beda ?
Apa penyebabnya ? Abu Yazid al-Bustami mengemukakan ada 4 hijab yang menutupi
makhluk dari Al-Haqq yakni : diri (nafs), hawa nafsu, setan dan dunia.
Selanjutnya ia menjelaskan manusia tidak akan sampai pada tingkat kedekatan
dengan Ilahi Rabbi, kecuali ia mampu memutus enam rintangan : Pertama,
mencegah anggota badan dari menyalahi aturan syari’at. Kedua, mencegah
diri dari kebiasaan sehari-hari. Ketiga, mencegah hati dari kebodohan
manusiawi. Keempat, mencegah sirr dari kotoran-kotoran tabiat. Kelima,
mencegah roh dari kabut- kabut indrawi. Dan keenam, mencegah akal dari
khayalan – khayalan kosong.
Selain itu, lentera hati itu akan meredup seperti
yang dikemukakan Imam Al-Ghazali karena keterkungkungan mereka pada makhluk dan
pada diri mereka serta fokos mereka pada perbuatan mereka sendiri. Penyimpangan
dari akidah yang benar, teramat cinta pangkat, harta, dunia, kekuasaan,
syahwat, panjang angan-angan, menunda-nunda amal, kikir, emosional dll.
Ibnu Qayyim dalam kitab Ad Da’wad Dawa’, al
Jawabul Kafi Liman Sa’ala ‘anid Dawa’ Syafi
dengan tegas menyebutkan bahwa kemaksiatan itu menyebabkan : Pertama,
dapat menutup hati “Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka”
(QS. Al Muthafifin: 34). Kedua, melemahkan perjalanan hati menuju Allah
SWT. Ketiga, dapat membutakan
pandangan mata hati, mematikan cahayanya, menutup jalan ilmu dan
menghalangi masuknya petunjuk. Imam
malik ketika bertemu dengan Imam syafi’i dan melihat sesuatu yang menakjubkan
pada dirinya, beliau berkata, “Sungguh aku melihat Allah telah memberikan
cahaya kepadamu, karena itu jangan kamu padamkan cahaya itu dengan gelapnya
kemaksiatan”.
Demikianlah, cahaya itu akan semakin melemah
dikala manusia terlena dan tenggelam dalam lumpur kemaksiatan, hati menjadi
gelap bagaikan malam tanpa lentera. Banyak orang tersesat karena tidak dapat
melihat dan membedakan jalah yang Haq dan jalan yang Batil, bagaikan orang buta
yang keluar pada malam hari yang sangat gelap melewati suatu jalan yang penuh
bahaya. Sungguh betapa tipisnya harapan untuk selamat.
Mari kita nyalakan lentera di hati kita agar
terlihat jalan-jalan kebaikan yang di ridhai Allah SWT, dan menghindari jalan
kemaksiatan sekecil apapun, semoga kita termasuk orang-orang yang diberi cahaya
keberkahan dalam samudera kehidupan. Amin.
No comments:
Post a Comment